Kritik Sastra Puisi "Jembatan" Karya Sutardji Colzoum Bachri Menggunakan Pendekatan Mimetik


JEMBATAN
Karya : Sutardji Calzoum Bachri

Sedalam-dalam sajak takkan mampu
menampung air mata bangsa
Kata-kata telah lama terperangkap
dalam basa-basi dalam ewuh perkewuh
dalam isyaraat dan kilah tanpa makna

Maka aku pun pergi menatap
pada wajah orang berjuta
Wajah orang jalanan yang berdiri satu kaki
dalam penuh sesak bis kota
Wajah orang tergusur
Wajah yang ditilang malang
Wajah legam pemulung yang memungut
remah-remah pembangunan
Wajah yang hanya mampu menjadi sekedar
penonton etalase indah di berbagai plaza

Wajah yang diam-diam menjerit melengking
melolong dan mengucap:
Tanah air kita satu
Bangsa kita satu
Bendera kita satu
Tapi wahai saudara satu bendera,
Kenapa kini ada sesuatu yang terasa jauh berbeda di antara kita ?

Sementara jalan-jalan mekar di mana-mana
menghubungkan kota-kota, jembatan-jembatan tumbuh kokoh
merentangi semua sungai dan lembah yang ada
Tapi siapakah yang mampu menjembatani jurang di antara kita ?
Di lembah-lembah kusam pada pucuk tulang kersang
dan otot linu mengerang
mereka pancangkan koyak-moyak bendera hati
dipijak ketidakpedulian pada saudara
Gerimis tak mampu menguncupkan kibarannya
Lalu tanpa tangis mereka menyanyi:
Padamu negeri
Air mata kami

            Pendekatan mimetik adalah pendekatan yang dalam mengkaji karya sastra berupa memahami hubungan karya sastra dengan realitas atau kenyataan. Dalam puisi yang berjudul “Jembatan” karya Sutardji Colzoum Bachri ini jelas menceritakan perbandingan kehidupan seorang pemimpin atau para pemerintahan dengan rakyatnya.  Kehidupan yang ia gambarkan dalam puisi tersebut tidak hanya terasa pada saat zaman itu saja, tetapi hingga saat ini pun masih banyak pemerintah-pemerintah seperti puisi di atas.
            Pada bait pertama, Sutardji menggambarkan bahwa apapun upaya rakyat itu hanya membuat sia-sia, rakyat akan tetap susah. Meskipun sudah dalam keadaan yang parah pun pemerintah tidak peduli dengan apa yang terjadi pada rakyatnya. Semua curahannya yang ia tuangkan dalam sajak pun takkan mampu menampung air mata bangsa ini. Pada bait kedua, Sutardji mulai menggambarkan keadaan-keadaan rakyat pada saat itu. Rakyat-rakyat yang semakin susahpun hanya bisa memandang para pejabat-pejabat kaya itu bak model dalam sebuah etalase kaca. Tampak jelas kesedihan yang dirasakan pada saat itu. Yang miskin tetap miskin dan yang kaya menjadi lebih kaya tanpa peduli orang yang ada di bawahnya.
            Pada bait ketiga adanya perbedaan antara rakyat dan para pemerintahan atau petinggi lainnya. Antara rakyat ke bawah dan para petinggi memiliki kesejajaran, yaitu sesama manusia, sesama bisa bernafas, sesama rakyat Indonesia, memakai bahasa yang sama, bahkan bendera tempat negara mereka berpijakpun sama, tetapi kenapa masih ada perbedaan antar rakyat dan para pemerintahan ? kenapa mereka masih membeda-bedakan rakyatnya ?

            Pada bait keempat Sutardji menggambarkan bagaimana kesibukan para pemerintah yang hanya terus-terusan sibuk memajukan bangsa, sibuk memperindah bangunan negara, yang semata-mata hanya ingin terlihat hebat dimata negara-negara luar. Padahal nyatanya masih banyak rakyat yang sengasara, masih banyak rakyatnya yang kelaparan, masih banyak anak-anak yang tidak dapat sekolah. Mereka hanya memikirkan kepentingan mereka sendiri tanpa memperhatikan rakyatnya. Mereka tidak peduli dengan saudara senegara mereka dan lebih peduli terhadap saudara di negera antah berantah lainnya. Mereka keluar dengan membawa-bawa nama negara, nama rakyat dan mereka yang berpura-pura peduli dengan rakyatnya di depan negara lain. Semua yang berbanding terbalik  dengan keadaan yang sebenarnya. Bahkan tangisan rakyat pun takkan mampu menghilangkan gengsi para pemerintah kita terhadap negara lain.
            Puisi Sutardji ini ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami oleh banyak orang. Bahkan isi dari puisi inipun akan slalu diingat orang meskipun baru sekali membacanya. Karna sampai kapanpun isi dari puisi ini pasti akan ada. Negara ini tidak akan maju jika pemerintah tidak memulai dari rakyatnya terlebih dahulu. Perhatikan rakyat yang masih banyak membutuhkan bantuan. Lakukanlah dari hal kecil dan hal kecil itulah nantinya yang akan membawa perubahan besar.


NB : Tugas Mata Kuliah Menulis Kritik dan Esai

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kritik Sastra Puisi Ali Hasjmy "Menyesal" Menggunakan Pendekatan Ekspresif

Esai Eksistensi Drama Korea