Kritik Sastra Puisi Ali Hasjmy "Menyesal" Menggunakan Pendekatan Ekspresif
MENYESAL
Karya: Ali
Hasjmy
Pagiku hilang sudah
melayang,
Hari mudaku
sudah pergi
Kini petang
datang membayang
Batang usiaku
sudah tinggi
Aku lalai di
hari pagi
Beta lengah di
masa muda
Kini hidup
meracun hati
Miskin ilmu,
miskin harta
Ah, apa guna
kusesalkan
Menyesal tua
tiada berguna
Hanya menambah
luka sukma
Kepada yang muda
kuharapkan
Atur barisan di
hari pagi
Menuju arah
padang bukit
Teori
ekspresif merupakan teori klasik yang menitikberatkan kajiannya pada pengarang
selaku pencipta karya sastra, khususnya yang berkaitan dengan
maksud/tendensi/niatan pengarangnya.
Prof.
Ali Hasjmy (nama lahir: Muhammad Ali Hasyim) alias Al Hariry, Asmara Hakiki dan
Aria Hadiningsun lahir di Idi Tunong, Aceh, 28 Maret 1914 – meninggal 18
Januari 1998 pada umur 83 tahun adalah saastrawan, ulama, dan tokoh daerah
Aceh. Ali Hasjmy adalah anak kedua dari 8 orang bersaudara. Ayahnya, teungku
Hasyim, pensiunan pegawai negeri dan mempunyai satu orang istri bernama Zuriah
Aziz yang dikaruniai 7 orang anak. Pendidikan Ali Hasjmy :
-
Goverment
Inlandsche School Montasie Banda Ace, sebuah lembaga pendidikan setingkat
Sekolah Dasar (SD)
-
Madrasah
Thawalib di Padang Panjang, baik pada jenjang pendidikan tsanawiyah (menengah
tingkat pertama) maupun jenjang ‘aliyah (menengah tingkat atas)
-
Al-Jami’ah
al-Qism Adabul Lughah wa Tarikh al-Islamiyah (Perguruan Tinggi Islam, Jurusan
Sastra dan Kebudayaan Islam) di Padang
-
Fakultas
Hukum Universitas Islam Sumatra Utara, Medan.
Tidak banyak yang membahas
tentang puisi “Menyesal” ini, hanya saja apabila dilihat dari segi pendidikan
Ali hasjmy merupakan orang yang berpendidikan. Pada puisi karangannya ini
sepertinya beliau ingin memberikan motivasi kepada generasi muda untuk tidak
menyia-nyiakan masa mudanya melalui pandangan-pandangan masa tua yang
dituangkan Ali Hasjmy pada puisi ini.
NB : Tugas Mata Kuliah Menulis Kritik dan Esai
Komentar
Posting Komentar